Butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk memulai menulis
Aku menemukan satu nasehat yang kutemui di beranda sosial mediaku dan itu sangat menggelitik diriku karena saat aku baca, kalimat itu satu suasana dengan suasana hatiku, begini kira-kira :
Your first workout will be bad.
Your first podcast will be bad.
Your first speech will be bad.
Your first video will be bad.
Your first ANYTHING will be bad.
but you cant make your 100th without making your first.
So put your ego aside, and start.
Source : Twitter_@SinghLions
Simpelnya, kutipan itu mengingatkan kita untuk 'mulai aja dulu, apapun hasilnya, di mulai dari mulai aja dulu.'
Selalu ada kali pertama dalam hidup
Usia yang mendekati kepala 3 ini, aku mulai sadar bahwa cerita yang Tuhan titipkan ke aku itu sangat menarik dan aku ingin menuliskannya supaya aku ingat. "Muda berkelana, tua bercerita", menarik bukan ?
Beberapa hari yang lalu, aku memperingati hari lahirku yang ke 28. Bagi beberapa orang, 28 itu usia yang masih muda, namun tidak banyak juga yang beranggapan bahwa usia 28 adalah usia yang sudah matang.
SEDIH,
Semakin dekat dengan hari peringatan kelahiranku, ada kegalauan serta rasa sedih yang sangat mendominasi nalar, dan nurani ini. Entah karena fase hidup ? atau perasaanku saja? entahlah.
Memang sebelum peringatan hari lahirku, aku menghadiahi diriku dengan liburan yang sudah ku rencanakan dengan budget yang sudah ku persiapkan sejak awal tahun 2023. Liburan di tempat perkelanaanku pertama, tempat dimana aku merasakan jatuh hati sedalam dalamnya, kemerdekaan serta kebebasan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Anehnya, aku menyukai perjalananku, namun, sepulangnya dari tempat itu, aku tidak merasakan kebahagiaan atau kepuasan hati seperti yang aku harapkan. Perasaan ku tidak karuan hingga hari H perayaan ulang tahunnku.
aku memilih untuk menarik diri, menghabiskan pergantian hari dengan mengobrol dengan instruktur selamku dan istrinya yang sudah ku anggap seperti om dan tanteku di kota rantau ini.
Aku sangat tidak menginginkan ucapan atau perayaan meriah seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menarik diri dari teman akrabku, menarik diri dari hiruk pikuk ucapan selamat;
Hanya keluarga, sahabat, dan teman terdekatku yang mungkin juga teman facebookku yang mengucapkan dan mendoakanku, aku tidak mempermaslahkan itu karna 'sendiri' itu yang aku inginkan. walaupun pada akhirnya ada salah satu temanku yang protes karna unggahan dia yang tidak ku bagikan ulang ke sosial mediaku dan semua temanku jadi tahu. Sungguh saat itu suasana hatiku sangat malas untuk hanya sekedar menyapa atau menanyakan kabar.
Namun, ada satu hal yang membuat hati ini sedih, ketika mamaku menelponku dengan fitur panggilan video pagi-pagi, mengucapkan dan mendoakanku hingga menangis. Sangat nampak dari sudut mata tua itu tersimpan doa tulus, support yang sangat dalam, kepercayaan yang sangat besar untuk anak di masa tuanya itu dapat bahagia.
Dengan gayaku yang jual mahal ketika diajak berdoa dengan pura-pura tidur, tetapi sesungguhnya hati ini sangat terharu dan menahan mata ini untuk menangis. (aku menuliskannya ini sambil menangis). Terima kasih ma, sudah selalu mendoakanku dan selalu menjaga dirimu supaya panjang umur karna salah satunya adalah ingin melihatku bahagia dan memasuki tahap baru.
Dari panggilan video itu, aku memutuskan dan membulatkan hati untuk "memulai", bukan untuk orang lain, bukan supaya orang lain. Tapi sesimpel aku mau untuk memulai. Pertanyaannya, memulai apakah itu ?
Tunggu saja, karna ketika aku memutuskan sesuatu, keputusan itu akan menjadi cerita menarik yang ingin ku ceritakan..
Love
Yvt